![]() |
| Grafik sakaratulmaut (Sumber: https://caraelok.blogspot.co.id) |
Kita
yang sudah berkeluarga dan punya anak (dan sebagian sudah punya cucu) pasti
sudah paham dan hafal akan dunia anak-anak. Anak kita yang belum genap berumur
5 tahun lazim disebut balita (bawah lima tahun). Sebagai alat untuk memantau
kesehatan serta pertumbuhan dan perkembangan tubuh si balita, kita biasanya
mendapat sebuah kartu yang disebut KMS (kartu menuju sehat) dari klinik
bersalin atau rumah sakit tempat si kecil dilahirkan.
Untuk
kesehatan serta pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya, balita harus rutin
diberi ASI serta makanan dan minuman tambahan lain yang bergizi cukup dan
seimbang. Sebulan sekali kita juga perlu membawanya ke posyandu atau puskesmas
untuk diperiksa dan ditimbang berat badannya. Hasil pemeriksaan dan penimbangan
akan diisikan pada KMS sebagai bahan untuk evaluasi dan menentukan
langkah-langkah perawatan selanjutnya.
Selama
kita rajin, tekun, disiplin, dan teratur melakukan semua hal di atas serta tak
lalai memberikan kasih sayang yang cukup, kita tak perlu khawatir akan
kesehatan serta masa depan pertumbuhan dan perkembangan balita kita. Sejauh
kondisinya normal dan kita merawatnya dengan cara yang wajar dan standar,
balita kita akan baik-baik saja, kecuali terjadi hal-hal yang berada di luar
kuasa kita (force majeure). Dapat
dipercaya, kita semua rasanya sudah melakukan tugas, tanggung jawab, dan
kewajiban kita kepada balita-balita kita dengan baik.
Namun,
sejalan dengan bertambahnya usia, diri kita sendiri ternyata telah atau mulai
menjelma menjadi balita juga. Kita menjadi “balita” dalam bentuk yang lain,
yakni ‘bawah lima puluh tahun’! Dan seperti halnya balita anak-anak kita,
ternyata kita juga membutuhkan KMS dalam bentuk yang juga lain, yakni kartu
menuju sakaratulmaut!
Seperti
halnya balita anak, sebagai balita dewasa, kita juga membutuhkan perawatan
untuk keperluan pengisian kartu menuju sakratulmaut. Akan tetapi, tidak seperti
perawatan balita anak yang memerlukan peran orang tua, perawatan balita dewasa
hampir sepenuhnya membutuhkan peran dan kesadaran diri sendiri dari yang
bersangkutan. Dengan kata lain, sebagai balita dewasa, kita sendirilah yang
melakukan perawatan diri untuk mengisi kartu menuju sakaratulmaut milik kita.
Jika
perawatan balita anak dilakukan agar kesehatan serta pertumbuhan dan
perkembangan tubuhnya senantiasa menunjukkan grafik meningkat pada kartu menuju
sehat, perawatan balita dewasa dilakukan agar keimanan dan ketakwaannya juga
senantiasa menunjukkan indikasi meningkat pada kartu menuju sakaratulmaut. ASI serta
makanan dan minuman tambahan yang bergizi cukup dan seimbang menjadi asupan
wajib untuk peningkatan kesehatan serta pertumbuhan dan perkembangan balita
anak. Namun, untuk balita dewasa, asupan mutlak yang tidak boleh ditinggalkan
adalah ibadah agar keimanan dan ketakwaan pada kartu menuju sakaratulmaut secara progresif menunjukkan grafik peningkatan.
Sebagai
balita dewasa (bawah lima puluh tahun), sudahkah kita melakukan hal-hal yang
diperlukan untuk mengisi kartu menuju sakaratulmaut? Sudahkah kita menjalankan
ibadah (wajib dan sunah) untuk memupuk keimanan dan ketakwaan agar grafiknya
pada kartu menuju sakaratulmaut memperlihatkan perkembangan yang meningkat? Sudahkah kita menjalankan
salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah-ibadah lainnya dengan ajek, tertib,
disiplin, konsisten, dan ikhlas untuk mendapatkan rida Allah sehingga
perkembangan keimanan dan ketakwaan kita yang tampak pada kartu menuju
sakaratulmaut meningkat dengan pesat dan
mantap?
Pengisian
kartu menuju sakaratulmaut akan ada
batas akhirnya. Batas akhirnya tak lain adalah saat Dokter Sang Pemilik Hidup
(Allah swt.) memerintahkan asistennya, Malaikat Maut, untuk mengambil nyawa
kita. Tidak seperti kartu menuju sehat balita anak yang batas akhir
pengisiannya dapat diperkirakan waktunya, hal yang sama pada kartu menuju
sakaratulmaut sama sekali tidak bisa
diduga. Detik ini, sepuluh menit yang akan datang, lima jam lagi, besok pagi,
atau seminggu mendatang, batas akhir itu bisa sewaktu-waktu tiba.
Jika
kita lalai mengisi kartu menuju sakaratulmaut dengan ibadah yang tekun, tertib, disiplin, konsisten, dan ikhlas sementara sakaratulmaut itu sendiri datang dengan sangat tiba-tiba,
maka tak tertolong lagi, grafik keimanan dan ketakwaan pada kartu menuju
sakaratulmaut kita bisa menurun atau
bahkan menukik tajam ke bawah. Penurunan atau penukikan grafik ini, seperti
dijanjikan oleh Dokter Sang Pemilik Hidup, tidak mengantarkan sang pemilik
kartu menuju sakaratulmaut ke tempat
penuh kenikmatan dan kenyamanan (surga), melainkan ke jurang kenistaan yang
penuh dengan azab dan kesengsaraan (neraka).
(Sumber: Sadah Siti Hajar, Embun, https://caraelok.blogspot.co.id/2017/11/kms-antara-kartu-menuju-sehat-dan-kartu.html,
4 November 2017)

No comments:
Post a Comment